Oleh : KH Abdullah Gymnastiar
Di mana pun dan kapan pun, kita harus selalu mengingat Allah.
Sehingga apapun yang terjadi, kita tetap berada dalam "lingkaran-Nya". Semoga
Allah menjadikan kita orang-orang yang mampu mengambil hikmah dari setiap
peristiwa. Dan, semoga pula kita selalu siap menghadapi apa pun yang akan
terjadi.
Saudaraku, orang yang beruntung adalah orang yang selalu
bergerak dan selalu berusaha untuk lebih baik. Saya ingin mengingatkan kembali
sebuah hadis dari Rasulullah SAW tentang waktu. Kalau hari ini lebih baik dari
hari kemarin, maka kita beruntung. Tapi kalau hari ini sama dengan kemarin, kita
rugi. Kenapa? Masalah yang kita hadapi bergerak terus setiap hari. Kalau
kualitas amal kita sama, berarti kita sudah kalah kemampuan. Apalagi kalau hari
ini lebih jelek dari hari kemarin, pasti celaka. Yang namanya urusan, masalah,
atau persoalan akan terus bergerak dan tidak bisa dihentikan. Pilihan kita hanya
satu, yaitu bergerak lebih cepat dari masalah yang akan kita
hadapi.
Karena itu, kita jangan takut dengan masalah yang akan
menghadang. Yang harus kita takuti adalah kurangnya percepatan kita dalam
menghadapinya. Ada sebuah perumpamaan tentang ujian di sekolah. Kenapa soal
ujiannya sama, tapi hasilnya berbeda? Ada yang lulus, tapi ada pula yang gagal.
Ada lulus pas-pasan, ada pula yang lulus dengan memuaskan. Yang membedakannya
adalah kemampuan setiap peserta ujian dalam menyelesaikan soal. Yang akan
menikmati ujian adalah yang jadwal belajar dan berlatihnya lebih banyak.
Akibatnya menjelang ujian lebih senang, ketika ujian ia menikmati, dan setelah
ujian ia dipuji. Beda dengan yang jarrang belajar dan jarang berlatih, sebelum
ujian tegang, ketika ujian bingung, dan setelah ujian terpermalukan.
Ujian apa pun yang menimpa, kalau kita memiliki kesiapan ilmu dan
mental, insya Allah ujian itu hanya akan mendatangkan nilai tambah dan kemuliaan
diri.
Allah adalah Dzat Yang Maha Memberi Derita dan Allah pun Maha
Memberi Manfaat. Dalam sebuah keterangan diungkapkan, "Jika Allah menyentuhkan
(bukan menimpakan) mudharat, maka tidak ada satu pun yang bisa menolaknya; dan
jika Allah memberikan satu kebaikan, maka tidak ada yang bisa menghalanginya,
kecuali Dia sendiri".
Saudaraku, kita harus sadar bahwa tidak ada satu
pun kejadian yang luput dari genggaman Allah SWT. Semuanya, total terjadi karena
izin Allah SWT. Setiap kejadian, entah baik atu buruk, terjadi karena izin
Allah. Karenanya, kita jangan sekadar mencari izin Allah, tapi kita harus
mencari ridha Allah.
Begitupun dengan jatuhnya pesawat Lion Air di Solo
pada 30 November 2004 lalu. Peristiwa itu terjadi karena izin Allah. Allah sudah
mengatur settingannya; cuaca buruk, hujan lebat, siapa yang duduk di depan,
siapa pula yang duduk dibelakang, siapa yang akan selamat, siapa pula yang akan
meninggal.
Semuanya ada dalam skenario Allah SWT, dan tidak akan
tertukar. Ada kasus yang tiketnya tertinggal, dia kecewa. Sebabnya Allah belum
menghendaki ia meninggal. Ada pula yang waiting list, ia gembira mendapatkan
tiket. Padahal saat mendarat itulah dia akan meninggal. Semuanya ada dalam
genggaman Allah. "Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal
mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak
(pula) mendahulukan(nya)" (QS Yunus: 49).
Apa hikmahnya bagi kita? Kala
kita melihat musibah tersebut, maka keyakinan yang penuh kepada Allah harus kita
dapatkan. Jangan sampai, ketika membahas musibah, kita hanya bisa menyalahkan,
mencari sebab, tanpa melihat hikmah yang terjadi di belakangnya. Itu bab lain,
tapi bab keyakinan kepada Allah mutlak harus kita dapatkan. Jangan biarkan
setiap kejadian lolos begitu saja. Kita harus menjadikan setiap kejadian
bernilai tambah.
Hikmah lainnya, di manapun dan kapan pun, kita harus
selalu mengingat Allah. Sehingga apapun yang terjadi, kita tetap berada dalam
"lingkaran" Allah. Tatkala kita naik pesawat misalnya, jadikan ia sebagai ladang
ibadah, dengan selalu berzikir, bertafakur, dan sepenuhnya berlindung kepada
Allah. Wallahu a'lam bish-shawab.
