Tampilkan postingan dengan label Short Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Short Story. Tampilkan semua postingan

Ada CINTA diantara Cinta III

Rintik-rintik hujan mengiringi langkah Afra menuju Bandara Soekarno-Hatta. Diantar oleh Jihan dan Aina, sahabat karibnya. Hari ini adalah hari terakhir dia bertemu mereka, setelah sempat beberapa hari menyelesaikan urusannya di tempat kerja, Afra memutuskan untuk resign sebagai pengajar tetap di sebuah sekolah swasta, karena keputusannya setelah lulus kuliah akan pulang mengapdikan diri dikampung halamannya. Dan Afra juga sudah berpamitan dengan anak-anak jalanan binaannya selama dia dalam perantauan. Tidak ada Faris saat itu. Mereka sangat sedih dengan perpisahan itu, tapi itu telah menjadi keputusan mutlak yang Afra ambil setelah istikhoroh panjangnya selama ini. Perpisahan yang sangat berat adalah ketika dia harus berpamitan pada Nek Siti. Entah kapan dia akan mengunjungi Nek Siti lagi. Afra tidak mampu mengucapkan janji pada Nek Siti akan kehadirannya kembali digubuk sederhana itu, berhubung jarak dari tempat tinggal Afra dengan rumah Nek Siti nanti sangatlah jauh, harus melewati Selat sunda dan jalan-jalan panjang dipulau Sumatra. Air matanya tak dapat terbendung hingga kepulangannya dari rumah Nek Siti, wajah Rifat pun menunjukkan kekecewaan atas kepergian Afra. Rifat saat itu sengaja hadir dirumah Nek siti, setelah SMS balasan dari Afra membuatnya penasaran. Baru saja ia ingin mengenal Afra, mungkin bukan hanya sebagai teman tapi lebih dari itu. Namun, dia harus mengubur harapannya bersama dengan kepergian afra.
“ Setelah dikampung, jangan lupa sering hubungi kita yah?, kita pasti bakalan kangen banget sama kamu Afra”. Suara Jihan menghentikan tatapan kosong Afra yang sedari tadi asik menghitung tetesan hujan yang mendarat di kaca  jendela Taxi yang membawa mereka menuju Bandara. “ Iya..pokoknya kamu harus hadir diacara walimahan  Kak Jihan 2 bulan lagi” tambah Aina sambil mengedipkan mata kearah Jihan.
 Dengan wajah sedih Afra menanggapi pembicaraan mereka berdua.
“ Maaf banget Kak Jihan, sepertinya Afra nggak bisa hadir diacara walimahan Kakak, kan Afra juga sedang sibuk mempersiapkan acara di bulan Maret, selisih satu bulan dari acara Kakak” jawabnya  lesu.
“Hehehehe….tenang aja Afra, nggak apa-apa koq, Kak Jihan ngerti keadaan kamu. Apalagi jarak tempat tinggal kamu nanti  bakalan jauh banget dari Kakak. Saling mendoakan saja semoga acara kakak dan acara walimahanmu lancar dan barokah “.
“ Aamiiiinnnn….” Ujar mereka serentak.
“Akhirnya kedua sahabatku ini akan menuju ke kehidupan yang baru, hhhmmm…ga nyangka, kalau Ustadz Fatih ternyata ta’aruf sama Kak Jihan. Dosen ku yang satu itu nggak memang nggak salah pilih akhwat.” Goda Aina pada Jihan.
Yang ternyata berta’aruf dengan Dosen Aina. Yang dulu sempat ingin berta’aruf dengannya. Pada kesempatan yang tak terduga Aina meminta bantuan sahabat dikampusnya untuk menta’arufkan  Jihan dengan Ustadz Fatih setelah Jihan wisuda. Dan Alhamdulillah memang niat Ustadz Fatih dan Jihan sendiri sudah mantab ingin membina keluarga, akhirnya mereka menemukan kecocokan satu samalain. Semua sudah menjadi skenario Allah.
Mereka terbawa dalam suasana sedih dan bahagia seiring mobil Taxi yang terus meluncur menembus rinai hujan membawa mereka menuju bandara.
***                 
SMS dari Faris kembali bertengger dilayar ponsel Afra. Seperti malam-malam yang lalu, serentetan kalimat itu terangkai indah.singkat namun penuh makna.
>> “ Cinta dapat membuatmu bahagia, tapi sering kali menyakitkan. Tapi, cinta menjadi istimewa bila kau berikan kepada yang memang pantas menerimanya. Karena itu, janganlah terburu-buru, pilihlah yang paling baik” begitulah isi SMS dari Faris.
Afra hanya menyunggingkan senyum dibibirnya. Kali ini tanpa berpikir lama. Dengan segera dia menitah jemarinya untuk membalas SMS dari Faris, untuk yang pertama dan mungkin yang terakhir dari SMS-SMS pukul 21.00 ,yang selama ini di terima Afra.
Ini saatnya Faris aku akan membalas SMS mu. Entah bagaimana perasaanmu padaku. Malam ini kau harus tahu…
<< “ Wa’alaikumsalaam…Faris sebelumnya aku ucapkan terima kasih atas SMS-SMS mu selama ini, memang benar cinta akan menjadi istimewa jika kita memberikannya pada orang yang memang pantas untuk menerimanya, dan puji syukur aku panjatkan atas cinta-Nya padaku. Dia telah pilihkan orang yang pantas untukku melabuhkan cinta yang selama ini kuberusaha untuk menjaganya. Mohon doanya..semoga cinta kami terbingkai indah dalam menggapai Rahmat-Nya. Sebelum aku menyelesaikan kuliah di Jakarta seseorang telah menghitbahku Faris, dan akhir  bulan ini kami akan melaksanakan akad nikah. “Balas Afra. Lega.
Faris diseberang pulau jawa sana hanya termangu menatap deretan kalimat dalam SMS yang dikirim Afra. Tidak bisa berkata-kata. Seperti ada segumpalan salju menubruk dadanya. Sesak. Faris berusaha menarik nafas sedalam-dalamnya , mungkin ini adalah cara yang tepat untuk menata kembali bangunan setengah pondasi didalam hatinya ,yang tiba-tiba runtuh menjadi puing-puing tak berarti. Mencoba mengukir senyum keikhlasan. Keikhlasan yang dipaksa. jemarinya mulai  mengetik beberapa kalimat sebagai balasan SMS untuk Afra.
…..manusia hanya menginginkan..berharap..tapi Allah yang mutlak memiliki ketetapan. Bisik Faris dalam hati mencoba menenangkan dirinya.
>> “oh…Barakallahu ya Afra, semoga menjadi keluarga Sakinah. maaf, hanya bisa mengirimkan sebait kado doa…tidak dapat  hadir di hari yang berbahagia. J .“. balas Faris.
Afra mengamiinkan dalam hati.
“ Tidak apa-apa faris. Terima kasih atas semuanya. Tetap semangat ya….menjadi pendidik yang baik untuk anak-anak jalanan yang ada dalam binaanmu sekarang “
Seminggu  lagi setelah kepulangannya saat ini ke kampung halaman, Afra akan melangsungkan pernikahan dengan salah seorang Ustadz yang mengajar di sebuah Pondok Pesantren dikampungnya. Teuku Khalilullah namanya. Lima  bulan yang lalu sebelum Afra menyelesaikan kuliahnya di Jakarta, Afra mendapat kabar dari keluarganya bahwa keluarga dari pihak Khalil ingin meminangnya menjadi menantu dalam keluarga mereka. Afra sendiri sudah sangat mengenal  Khalil, walaupun hanya lewat cerita keluarganya. Sosok  Khalil yang santun sudah tidak asing dimatanya. Dia adalah kakak kelas Afra waktu SMA dulu.  Khalil menyelesaikan Studi nya dibidang Hukum Syari’ah dan mengajar di Pondok Pesantren. Sudah lama ternyata dia menaruh hati pada Afra, maka setelah menyelesaikan kuliahnya, dia meminta orangtuanya meminang Afra untuknya. Setelah istikhoroh panjang selama 2 bulan baru Afra memberikan jawaban, akhirnya Afra menerima pinangan  Khalil. Khalil menghitbah Afra tanpa bertatap muka dalam acara itu.mereka tidak saling bertemu. Khalil di Aceh, sedangkan Afra di Jakarta .
>> “ Assalamu’alaikum…Alhamdulillah acara berjalan lancar. Terima kasih Afra..semoga apa yang telah menjadi rencara kita terlaksana di hari yang diridhoi-Nya. Aamiin..” Hanya itu pesan singkat yang diterima Afra  dari Khalil. Setelah acara khitbah di rumahnya.
Afra mengamiinkan dengan penuh khitmat..penuh harap agar yang terencana selaras dengan ketetapan-Nya. 
Selama Afra menyelesaikan kuliahnya, Khalil sama sekali tidak pernah menelpon atau mengirim SMS kepada Afra. Setelah SMS yang dikirimnya waktu itu.  Afra hanya dikabarkan oleh ibunya bahwa Khalil hanya ingin berkomunikasi setelah ada ikatan. Dia tidak ingin menggangu Afra dengan jalan yang tidak baik menurut-Nya. Hal itu yang menjadi point ketertarikan Afra kepada Khalil.
Afra berusaha menepis cinta-cinta yang menghampirinya karena suatu janji dari Cinta-Nya. Sebuah ikatan yang akan menjadi jembatan dalam menggapai Cinta-Nya.
Bagaimana mungkin dia bisa berkata tidak atas seseorang yang dipilihkan oleh-Nya karena keimanannya. Dia adalah Teuku Khalilullah.
Ada Cinta yang dipilihkan-Nya untuk ku dari segala cinta yang ada….
Tulis Afra dalam coretan kecilnya di malam yang diterangi setengah cahaya bulan.

Ada CINTA diantara cinta II


Perjalanan disore hari yang berkesan…
Sudah lama Afra tidak mengunjungi rumah neneknya di sudut kota Karawang. Hari ini adalah waktu yang tepat untuk bersilaturahmi kerumah nenek. Setelah menyelesaikan tugas-tugas kuliah di pertengahan semester. Akhirnya liburan seminggu dapat dipergunakan untuk bersilaturahmi.
Dua jam perjalanan dari Jakarta ke  Karawang. Cukup melelahkan.
Dari depan GOR Karawang Afra harus menggunakan becak untuk mencapai rumah neneknya yang terletak di diantara gang-gang kecil disudut kota lumbung padi itu. Setelah turun dari becak, Afra harus berjalan lagi sekitar 100 meter menuju rumah neneknya. Ada pemandangan  mengesankan yang dilihat Afra dari jarak langkahnya menuju rumah nenek. Seorang pemuda sedang mengajar mengaji di sebuah mushalla kecil dengan tiang-tiang kecil, tanpa jendela . Sehingga aktivitas didalam musholla terlihat jelas oleh Afra. Sejenak langkahnya berhenti, memperhatikan dengan seksama aktivitas mereka. Dia berdecak kagum dengan apa yang dilihatnya. Anak-anak yang berusia sekitar 8 sampai 15 tahun yang berjumlah kira-kita 15 orang sedang asik dengan kegiatannya. Satu anak membaca Al-Qur’an, di bimbing seorang Ustadz muda dan anak yang lain menyimak dengan khusyuk. Bacaan si anak itu masih terbata-bata, tapi sang Ustadz muda terlihat begitu sabar membantu dia mengeja dan sesekali memberikan motivasi dengan bahasanya yang lembut.
Subhanallah…lirih Afra diujung bibirnya. Pikirannya melayang entah kemana, seperti ada setetes embun yang sejuk mendarat didasar bebatuan hatinya.
Siapa pemuda itu? Terakhir 2 bulan yang lalu aku kesini belum ada aktivitas pengajian dimusholla kecil itu, bahkan musholla itu seperti tak terurus. Tanya afra dalam hati, sambil melanjutkan langkahnya menuju rumah nenek.
“ Assalamu’alaikum…” sapa Afra sambil mengetuk pintu. Seseorang terdengar melangkah menuju pintu.
“Wa’laikumsalam..” jawab seorang wanita tua sambil membukakan pintu untuk Afra.
Dengan penuh rindu dipeluknya sang nenek . Wanita tua ini tinggal sendiri di gubuk sederhananya. Suaminya telah lama meninggal, dan dia hanya mengenal Afra sebagai cucunya. Padahal Afra bukanlah cucu kandungnya, Afra hanya dipertemukan oleh ayahnya beberapa tahun yang lalu sebagai cucu angkatnya. Tapi Afra sendiri sudah menganggap Nek Siti, begitulah panggilan akrab si Wanita tua itu, sebagai neneknya sendiri. Karena Afra memang tidak memiliki saudara ditempat perantauannya sekarang. Kedua orantuanya tinggal jauh diseberang Sumatra. Setiap bulan Afra selalu rutin menjenguk Nek Siti, agar Nek Siti tidak kesepian dan merasa masih ada yang memperhatikan dirinya.
Ketika mereka sedang asik dalam obrolan, tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu. Nek siti bangun dari duduknya dan segera melangkah menuju pintu.
“ Eeeh..Nak Rifat, silahkan masuk Nak!. “ Sapa Nek Siti setelah membukakan pintu.
Rifat? Afra mengerutkan kening.
Hah?dia kan ustadz muda yang mengajar mengaji di musholla tadi. Afra kaget dengan kedatangan Ustadz muda itu kerumah Nek Siti.
“ Nak Rifat kenalkan ini cucu Nenek dari Jakarta! “ Nek Siti memperkenalkan Afra pada Rifat. Pemuda yang sempat membuat Afra kagum dengannya.
Rifat menangkupkan kedua telapak tangan kearah Afra sambil menyebut namanya. Begitu juga Afra.
“Yang tadi berdiri di depan musholla ya?.” Tanya Rifat mencoba akrab.
Hek. Afra terhenyak kaget.
Jadi, tadi rifat melihatku memperhatikan aktivitasnya di musholla.
“Euu…iya….tadi saya sempat memperhatikan aktivitas anak-anak yang mengaji di musholla.” Akui Afra dengan sedikit tergagap. Malu.
“Silahkan duduk Nak Rifat !.” Suara Nek Siti mencairkan suasana tegang diwajah Afra.
“ Terima kasih Nek, saya cuma ingin memberikan ini, tidak bisa lama-lama karena ada keperluan lain, tadi sekalian lewat jadi mampir sebentar kesini. “ jelas Rifat sambil memberikan sebungkus sembako kepada Nek Siti.
Nek siti menyampi pemberian Rifat diiringi ucapan terimakasih. Dan Rifat pun berpamitan pada Nek Siti dan Afra. Setiap minggu Rifat memang rutin singgah di gubuk Nek Siti, mengantarkan sembako. Cerita Nek Siti pada Afra.
Afra masih diam dalam ketidakpercayaan pada taqdir yang mempertemukannya dengan Ustadz muda yang mengagumkan itu.
Setelah pertemuan sore itu dengan Rifat. Kesederhanaan, kesopanan, dan keilmuannya yang mengagumkan dihati Afra. Serta kebaikan-kebaikan Rifat yang diceritakan Nek Siti membuat Afra terus beristighfar berulang kali, ketika sosok Rifat kerap hadir dalam lamunannya.
Ya..Rabb, kekarkan hati ini pada mengingatMu. Bukan pada makhlukmu. Aku sangat paham, ini adalah ujian hati untukku…
Sebait doa ini selalu terlantun dalam bentangan sajadahnya. Dia akui bahwa setetes embun yang berdenting di bebatuan hatinya telah sedikit demi sedikit membuat lumbung air dihatinya.
Apakah ini cinta yang hadir karena-Mu ya Rabb. Cinta pada hamba yang mencintai-Mu?. Ah…tidak ada cinta yang halal sebelum ada ikrar cinta dihadapan-Nya dalam sebuah ikatan. Bathin Afra bergejolak.
Setiap hari afra masih saja menerima kiriman SMS dari Faris, selalu tepat pukul 21. 00. Setiap ahad pagi pun Afra pasti bertemu dengan Faris ketika mengajar anak-anak jalanan di Jakarta. Tapi Afra berusaha bersikap sewajarnya, berusaha menjaga jarak.  Antara dia dan Faris adalah teman dalam batas-batas aturan Islam yang harus dijaga.
Saat ini Afra pun sedang sibuk menetralkan hati karena perasaannya pada Rifat yang semakin hari kian mengganggu. Ketika Afra berkunjung kembali kerumah nenek beberapa kali di bulan berikutnya. Tidak bisa dihindari Afra pasti melewati musholla di jalan menuju rumah nenek, dan tidak dapat dihindari pula sosok Rifat ada dalam aktivitas di musholla itu. Walau mereka tidak pernah menyapa setelah pertemuan sekali dirumah nenek. Tapi tatapan Rifat yang sesekali bertemu dengan Afra ketika tanpa sengaja Afra melewati dan mengalihkan pandangannya kearah musholla, membuat ada sesuatu yang berbeda dari suasana yang lalu.
Setiap berkunjung kerumah Nek Siti, Nek Siti pun selalu bercerita tentang Rifat. Rifat adalah seorang pemuda yang santun, dia baru pindah dari Bandung, bersama keluarganya tinggal di Karawang. Dia baru saja menyelesaikan Studi kedokterannya di Bandung dan sekarang bekerja sebagai Dokter di sebuah Rumah Sakit Umum di Karawang. Dia aktif mengajar di musholla kecil itu karena dia prihatin dengan keseharian anak-anak dalam pergaulan, banyak diantara mereka yang tidak dibekali pengetahuan agama oleh keluarganya. Karena jiwa sosialnya yang tinggi Rifat membuat sebuah kegiatan rutin mengajarkan anak-anak disekitar tempat tinggalnya mengaji dan memberikan mereka ilmu pengetahuan tentang agama Islam.
Suatu hari setelah beberapa kali Afra secara tak sengaja bertemu tatap dengan Rifat yang sedang mengajar di musholla. Afra dikagetkan dengan sebuah pesan singkat dari nomor dengan tanpa nama si Pengirim.
>> “ Assalamu’alaikum…maaf sebelumnya jika menggangu dan tidak sopan dengan datangnya SMS saya ini. Saya sengaja meminta no. Afra kepada Nek siti. Setelah beberapa pekan ini ada sesuatu yang mengganggu pikiran saya, setelah pertemuan  hari itu di rumah Nek Siti. Afra, saya sudah meminta izin pada Nek siti ingin lebih mengenal Afra. Apakah Afra keberatan?” setelah membaca  isi pesan itu, Afra dapat menebak bahwa si Pengirim pesan adalah Rifat.
Afra hanya termangu dalam diamnya. Beristighfar…
Apakah ini sebuah lanjutan ujian hati ataukah sebuah kebahagiaan yang mengakhiri ujian-Mu ya Rabb?. Bisik Afra dalam bathinnya.
Telah berusaha Ia menata hati akan perasaannya pada Rifat yang mulai tumbuh. Tiba-tiba datang SMS dari Rifat yang seolah-olah menjadi jembatan atas perasaannya yang selama ini kehilangan arah. Namun,  Ia teringat sesuatu…bibirnya kembali mengucap istighfar.
<<“Wa’alaikumsalam…oh Kak Rifat, apa kabar? Masih aktif mengajar di musholla?” Afra membalas SMS Rifat balik bertanya, mengalihkan keseriusan yang ditunjukkan Rifat dalam isi SMSnya pada Afra.
Afra berusaha meyakinkan hatinya.
 Ini ujian. Aku harus menahan diri. Fokus..fokus pada kuliah dulu, sebentar lagi aku harus kembali ke rumahku. Di sana sudah menunggu seseorang yang mencintaiku dengan cara yang lebih baik. Apresiasi cinta yang ditunjukkan dalam batas-batas peraturan cinta-Nya. Seseorang yang tidak pernah berusaha mengoyahkan imanku, tapi justru mengokohkan cintaku dijalan-Nya. Yah..disana di sebrang sana…
>> “Alhamdulillah baik Afra, dan aktifitas anak-anak yang mengaji pun seperti biasa. Malah bertambah ramai yang mau ikut mengaji di musholla”.
<< “Alhamdulillah,selalu semangat ya Kak mengamalkan ilmu dijalan Allah, semoga Allah membalas membalas kebaikan Kakak. Hhmm… Kak Rifat salam untuk Nek Siti ya, mungkin untuk dua bulan kedepan, Afra untuk  yang terakhir kalinya mengunjungi Nek Siti dan kota karawang.”
>> “Aamiin, terimakasih afra. lho..kenapa afra bilang yang terakhir?”. Tanya Rifat penasaran dalam SMSnya.
Afra menghela nafas.
<< “Nanti kakak akan tahu jika Afra sudah berkunjung kesana.” Afra berharap ini balasan SMS terakhirnya untuk Rifat.
>> “Baiklah Afra, jika kamu tidak ingin memberitahukan alasannya sekarang pada Kakak.”
Komunikasi mereka disudahi sampai disini.


 Bersambung...Insya Allah. :)

Ada CINTA diantara cinta I

Tring ting…
Nada adanya pesan diponsel Afra. Lagi-lagi dan lagi, setiap pukul 21. 00 pesan panjang berisi mutiara kata dari seseorang selalu hadir dilayar ponselnya. Sudah 2 bulan tidak pernah absen.
Apakah dia tidak lelah setiap hari menyempatkan diri mengirim pesan untukku, sedang aku selama ini selalu menujukkan sikap tak peduli padanya. Bahkan rasanya aku yang lelah dengan semua yang dia lakukan. Afra membatin.
Matanya berusaha mengeja setiap bait yang tertulis dalam pesan itu. Pesan yang diterima Afra dari Faris. Afra mengenalnya 5 bulan yang lalu, mereka sama-sama berkecimpung disebuah komunitas yang memberdayakan anak-anak jalanan di daerah Jakarta. Selama ini Afra merasa biasa-biasa saja dengan sikapnya terhadap Faris. Tapi, entah mengapa setelah pertemuan di acara Salam Relawan untuk Anak Jalanan tempo lalu, Faris kerap mengiriminya pesan yang berisi mutiara kata, kadang kalimat-kalimat motivasi tentang kehidupan, kadang pula tentang cinta. Afra sering kali risih dengan segala sikap yang  ditunjukkan Faris. Ingin sekali  Afra membalas pesan dari Faris “Stop faris jangan mengirimiku lagi SMS - SMS yang akan menggoyahkan imanku”. Tapi, niat itu selalu diurungkannya.
Ah…nanti disangka keGeeran lagi, siapa tahu Faris tidak mengirim pesan seperti itu untukku saja. Bisa jadi dia cuma berbagi motivasi untukku dan untuk teman-teman yang lain. Terlalu sempit pemikiranku jika aku katakan bahwa faris memiliki perasaan yang berbeda padaku. Ah tidak!!! Malunya aku. Celoteh Afra dalam hati.
Lalu, dibiarkan SMS-SMS dari Faris dengan sikap tidak pedulinya, tidak pernah dibalas satu pun. Afra pikir suatu saat nanti dia akan mengerti dengan sikapnya dan Faris akan lelah sendiri dengan ketidakpeduliannya. Harap Afra begitu.
Tring ting…nada adanya pesan diponselnya kembali berbunyi. SMS dari Jihan.
>> “Assalamu’alaikum..Afra tolong informasikan ke temen-temen, ahad ini halaqoh ditempatku ya!. Afwan, pesen dari ummi tadi , katanya ada keperluan keluarga. Jadi kita liqo’ mandiri aja. Syukran”.
<<” Wa’alaikumsalaam..insya Allah.” Balas Afra singkat.
Ahad, ba’da ashar, sepulangnya dari mengajar anak-anak jalanan yang ada dijakarta, Afra langsung meluncur ketempat Jihan. Inilah rutinitas akhir pekannya setelah kuliah dan bekerja. Rutin mengikuti ta’lim untuk menambah wawasan Islamiyahnya.
***
Pukul 16. 15 WIB
Mereka sudah berkumpul, duduk bersila membentuk lingkaran. Membacakan ayat-ayat cinta-Nya bergiliran. Ketika tiba giliran Aina, gadis yang menyukai warna pink ini dan saat itu pun mengenakan stelan muslimah berwarna pink. Gadis yang fasih berbahasa arab dan terkenal dengan kelembutan hatinya. Tiba-tiba terisak dalam bacaan tilawahnya. Semua sorot mata yang hadir dalam lingkaran itu berpindah pada wajah sendu Aina. Mereka paham betul mengapa Aina sampai meneteskan air mata, mereka tahu bahwa Aina memahami arti dari ayat-ayat Al-Qur’an yang sedang dibacanya. Karena Aina adalah salah satu  mahasiswi di Prodi Sastra Arab. Mereka hanya termangu dalam tatapan dan beralih kembali pada mushaf yang mereka pegang masing-masing. Menyimak dengan khusyu’ sambil sesekali memahami artinya lewat terjemahan. Karena hanya Aina yang pandai berbahasa Arab. Ayat-ayat yang sedang dibaca adalah ayat-ayat yang termaktub dalam Surah Al-waqi’ah. Ayat-ayat terakhir dari surah ini menceritakan tentang golongan kiri yang akan memperoleh azab neraka. Sebab itulah yang membuat Aina meneteskan airmata ketika membacanya.
“Bahas tentang apa nih, kebetulan ini pekan kelima, jadi seharusnya hanya program silaturahmi?” Jihan sebagai mas’ul (ketua) membuka acara selanjutnya dengan pertanyaan. Setelah sebelumnya diawali dengan kultum singkat yang dibawakan oleh Afra.
“ Bahas tentang ta’aruf aja kak..”Kayla menyumbangkan suara. Ragu-ragu.
“Ehem..”. ditanggapi dengan candaan oleh Riana.
“Cie..cie…yang udah niat”.  Iffah ikut menyambung candaan dari Riana.
“ Eh..bukan gitu, kita kan memang harus tahu masalah-masalah seperti itu, harus lebih paham tentang cara berkenalan yang Syar’i.” Kayla membela diri. Wajahnya berubah warna.
Teman-temannya yang melihat seketika tertawa.
‘Iyee…nggak apa-apa, boleh aja koq” sambung jihan.
Tentang ta’aruf. Materi ini selalu ‘meriah’ untuk diperbincangkan oleh para gadis yang akan memasuki usia berumahtangga seperti mereka. Kedelapan muslimah ini saling memberi tanggapan dan masukan yang pada akhirnya  beralih ke acara curhatan.
Tentang si Ali yang kerap kali menelpon Kayla, membuat Kayla ilfeel dengan sikapnya. Tentang Susi yang sudah berniat ingin membina rumah tangga, akan tetapi belum ada ikhwan yang cocok setelah beberapa kali ta’aruf. Tentang Jihan yang ditawarkan untuk ta’aruf oleh temannya, tapi Jihan belum mendapat SIM (Surat Izin Menikah ) dari abinya sebelum wisuda akhir tahun ini. Jihan hanya bisa pasrah dengan keputusan keluarganya. Dia merasa sudah saatnya menikah tanpa harus menunggu wisuda terlebih dahulu, karena ikhwan yang diceritakan sahabatnya sepertinya ikhwan yang sholeh.
“ Apapun yang terjadi pada kisah kita, semua tidak terlepas dari scenario Allah. Manusia hanya memiliki keinginan-keinginan dan harapan, sedang Allah yang memiliki ketetapan. “ kalimat terakhir yang diucapkan Jihan untuk menenangkan hatinya.
Desah nafas dan segaris senyum dibibirnya menampakkan keikhlasan akan segala yang dijalaninya sekarang. Teman-teman yang lain menanggapi dengan menganggukkan kepala.
Aina yang sedari tadi diam menyimak cerita-cerita dari temannya akhirnya ikut ambil bagian.
“ Aina sedang bingung teman-teman, beberapa hari ini ada ikhwan yang sering menanyakan tentang Aina kepada sahabat Aina dikampus. Sahabat Aina bilang ikhwan itu ingin ta’aruf denganAaina. Dia menanyakan no. HP ummiAaida. Aina bingung harus bagaimana, setahu aina ikhwan itu adalah dosen Aina sendiri. Aina malu jika beliau sedang mengisi kuliah dikelas Aina.” Cerita Aina. Wajahnya ditekuk hingga hanya terlihat bulat kepalanya.
Pembincangan menjadi serius. Semua terfokus pada cerita aina yang menunggu tanggapan dari mereka.
“ Kamu sendiri bagaimana, sudah siap untuk ta’aruf?” Afra menanggapi dengan melemparkan pertanyaan pada Aina.
Aina menggelengkan kepala. “Aina ingin selesaikan kuliah dulu.” Jawabnya.
“ Aina telah menolak permintaan ta’aruf beliau. Aina malu ketika berhadapan dengan beliau karena beliau mengajar di kelas Aina juga.” Sambung Aina dalam tunduknya.
“Aina…” panggil Jihan. Mengharap Aina mengangkat pandangannya.
“Iya kak .“ Aina mengangkat wajahnya, tatapannya tertuju pada Jihan.
“ Jika Aina telah memutuskan seperti itu tidak perlu malu,  jika Aina memberi harapan tapi Aina belum siap. Itu patut membuat Aina malu. Terutama malu pada Allah. Kakak yakin ikhwan itu pasti juga mengerti tentang keadaan Aina.” Jihan mencoba menenangkan perasaan Aina. Aina mengangguk diiringi senyum.
“ Aina akan coba focus pada keputusan Aina dan biasa saja menghadapi dosen Aina itu “
Cerita Aina mengakhiri pertemuan pekan itu. bersambung.....